SEJARAH PERJUANGAN HIMPUNAN WANITA KARYA (HWK)

HWK lahir dari kesadaran para tokoh pergerakan wanita yang berada di Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) secara bersama-sama menghimpun diri, menyatukan pemikiran dan mengembangkan potensi diri yang dimiliki guna membangun bangsa dan memajukan kaum perempuan Indonesia.

Sebagai cikal bakal organisasi perempuan HWK lahir pada zaman akhir Demokrasi Terpimpin tahun 1964. Namun secara resmi organisasi ini baru terbentuk sekitar 15 tahun setelah Orde Baru lahir, yakni tahun 1981, tepatnya tanggal 28 Februari 1981, sebagai sebuah organisasi pergerakan perempuan yang mandiri.

HWK pada masa tersebut merupakan salah satu organisasi wanita yang dalam sepak terjangnya bergandengan tangan dan bermitra dengan Golkar dalam rangka mendampingi dan memajukan kaum wanita yang relative terbelakang di pedesaan dan kaum wanita profesional yang relative sudah maju di perkotaan yang mana kedua kelompok ini belum maksimal diberdayakan oleh organisasi-organisasi pergerakan wanita yang ada.

Hubungan secara organisatoris, historis dan idiologis antara HWK dengan Golkar terjalin salah satunya dikarenakan kelahiran HWK telah dibidani oleh tokoh-tokoh perempuan yang menjadi pengurus senior Golkar waktu itu.

Dalam perjalanan berikutnya HWK setelah terbit UU Nomor 8 tahun 1985 tentang Keormasan juga ikut menyesuaIkan diri dengan perkembangan organisasi sosial kemasyarakatan yang ada dan berusaha untuk secara terus menerus berusaha untuk tidak terlepas dari jejak Sejarah Perjuangan Bangsa dan Sejarah Pergerakan Kaum Wanita Indonesia. Selanjutnya HWK berkembang menjadi organisasi massa yang independen dan mandiri yang karena konsekuensi dari UU Keormasan yang ada secara organisatoris diharuskan melepaskan kerterikatannya dengan Golkar.

Tentang HWK Visi

Membangun Wanita Indonesia yang mampu memberikan karya dan kekaryaan kepada bangsa dan negara Indonesia.

Misi

Menjadi wadah pergerakan Wanita Indonesia yang berkehendak memberikan karya dan kekaryaannya yang terlepas dari latar belakang suku, agama, daerah, afiliasi politik dan profesi.

Latar Belakang Kelahiran

Kelahiran awal HWK terutama didasarkan pada argumen kehadiran yang kemudian dirumuskan ke dalam 3 (tiga) latar belakang organisasi sebagai berikut :

1. HWK sebagai perpanjangan tangan gerakan politik Golkar mempunyai peran yang penting, terutama dalam rangka meraih dukungan dari berbagai kelompok wanita yang ada.

2. HWK sebagai wadah pengembangan profesi dan pengembangan kemampuan wanita Indonesia dalam prakteknya fokus mewadahi kaum wanita yang bukan profesi militer atau istri militer dan bukan pegawai negeri sipil atau isteri pegawai negeri sipil (isteri militer diwadahi secara khusus dalam Dharma Pertiwi dan isteri pegawai negeri sipil telah diwadahi dalam Dharma Wanita).

3. HWK berkeinginan untuk membentuk wadah yang mampu menampung aspirasi kaum wanita dari berbagai kelompok profesi di luar Dharma Pertiwi dan Dharma Wanita. Atas gagasan tersebut maka terbentuklah sebuah organisasi wanita yang bernama HWK pada tanggal 28 Februari 1981 dengan orientasi gerakannya terutama ditujukan bagi pengembangan karya dan kekaryaan dalam rangkat membantu memajukan peran wanita dan memajukan bangsa Indonesia.

GERAK LANGKAH HWK

HWK dalam gerak langkahnya melintasi 4 (empat) zaman yang berbeda, yaitu sejarah embrio berdirinya pada zaman Orde Lama, sebagai bagian dari Sistem Orde Baru, tetap bertahan di zaman Orde Reformasi dan sampai sekarang bertahan dan berkembang terus sebagai organisasi pergerakan perempuan.

Zaman Orde Lama

HWK pada saat lahir sebagai embrio di zaman Orde Lama telah melakukan gerakan berupa gagasan dan pemikiran sebagai berikut :

a) Menggalang kerjasama dengan Kowani serta mendorong Kowani mengadakan konsolidasi sehingga di masa Orde Baru menjadi wadah berhimpun aspirasi kaum wanita dan menjadi salah satu penopang keberlangsungan Orde Baru.

b) Tanggap atas lahirnya Deklarasi Sedunia tentang Hak Azasi Manusia (HAM).

c) Menggali fungsi hakiki wanita melalui program Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

d) Mendorong Kowani menyelenggarakan Revolusi Pergerakan Wanita Indonesia dalam kancah kehidupan bangsa.

Bagian Sistem Politik Orde Baru

HWK sebagai bagian dari Sistem Politik Orde Baru telah melakukan gerak langkah untuk memajukan kaum wanita sebagai berikut :

a) Memberikan Pendampingan dan Pembelajaran Wanita Indonesia untuk memahami manajemen sebagai sebuah praktek dalam berbagai kegiatan masyarakat.

b) Menyusun konsep Cetak Biru PKK yaitu pendidikan untuk wanita melalui program pendidikan keluarga.

c) Menyusun infrastruktur Tiga Kekuatan Besar Wanita yaitu Kowani, Dharma Pertiwi dan Dharma Wanita di dalam lingkar kendali kekuasaan Orde Baru guna mendukung sukses program pembangunan waktu itu.

d) Mensosialisasikan perlunya transformasi tema lama gerakan perempuan dari “Perjuangan Wanita dengan Hak dan Kedudukan Wanita” menjadi tema baru “Peran Wanita dalam Pembangunan Nasional”.

e) Mengembangkan pemanfaatan Lahan Pekarangan Rumah melalui konsep Mix Farming dan diterima Dharma Karang Kitri sebagai sebuah konsep gerakan masyarakat.

f) Mengembangkan Pendidikan Dasar Anak untuk masyarakat pedesaan pada umumnya dan khususnya untuk memberantas tingginya angka buta huruf.

g) Mengelola gagasan untuk memfokuskan seluruh kegiatan perempuan Indonesia tertuju pada mensukseskan Pembangunan Nasional.

h) Mengembangkan Kerajinan dan Industri Kecil di pedesaan.

i) Mengembangkan Kualitas Industri Kecil Nasional melalui penyelenggaraan Lomba Desain Tekstil yang berkesinambungan.

j) Menyelenggarakan Gerak Jalan Kartini secara regular sehinggga menjadi sebuah gerakan yang diikuti dan dikembangkan oleh organisasi pemerintah maupun swasta.

k) Mendirikan Badan Konsultasi Hukum dan Keluarga dan juga melakukan penguatan pendirian Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN).

l) Mengelola “Lost Generation” dengan mendirikan Yayasan Kunti yang menangani anak terlantar, yatim piatu dan anak asuh.

m) Merintis pemikiran untuk menanggulangi Kemerosotan Kualitas Generasi Muda khususnya pada permasalahan penyalahgunaan narkoba dan obat-obat adiktif.

n) Melaksanakan Program Pendidikan Perkaderan dan Kepemimpinan Wanita.

o) Mendirikan PPSEAWA Indonesia.

p) Memulai pemberdayaan perempuan di sektor ekonomi dengan mengembangkan Wahana Ekonomi Koperasi Wanita sebagai usaha bersama untuk pemasaran.

q) Mendirikan Karang Lansia.

r) Mendirikan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Anak Republik Indonesia (LEPKARI, sebuah orsganisasi yang fokus kepada pengembangan bakat remaja).

s) Menjadi bagian dari usaha pemerintah dalam meratifikasi kesepakatan internasional untuk melarang diskriminasi terhadap wanita.

Ketika menjadi bagian Sistem Politik Orde Baru HWK mengalami berbagai peristiwa sosial dan politik baik yang memiliki dampak positif maupun negatif terhadap organisasi. Pada saat Orde Baru tumbang dan berganti ke Orde Reformasi HWK banyak mendapat cercaan dan dipermalukan karena telah menjadi mitra kerja Golkar dan menjadi bagian dari kekuasaan Orde Baru dan tentunya hal demikian sedikit banyak berdampak negatif pada organisasi.

Sedangkan dampak positifnya adalah menjadi kebanggaan tersendiri ketika HWK telah menjadi wadah penggodokan pemikiran dan pengembangan diri kaum wanita Indonesia. Keberhasilan ini ditandai dengan duduknya beberapa tokoh HWK dalam jajaran kabinet di era Orde Baru seperti :

a) Ibu Prof. Nani Soedarsono, SH, Ph.D. (Ketua Umum HWK)

b) Ibu Sulasikin Moerpratomo (Ketua HWK)

c) Ibu Mien Sugandhi (Ketua HWK)

d) Ibu Inten Soeweno (Sekjen HWK)

e) Ibu Sri Rejeki Sumaryoto, SH (Ketua HWK)

f) Ibu Prof. Dr. Yaumil Agoes Akhir (Ketua HWK)

Bertahan di Orde Reformasi

HWK yang terus ingin tetap bertahan di Orde Reformasi telah melakukan langkah- langkah strategis sebagai berikut :

a) Menjadi salah satu pelopor penyatuan gerakan perempuan dengan mempelopori Forum Dialog Wanita tentang “Peningkatan Potensi Produktif Wanita Indonesia menuju Abad 21”.

b) Menjadi pelopor pelaksanaan seminar yang dilakukan oleh Forum Dialog Wanita tentang “Damai itu Indah” yang mengonsepkan pemberdayaan wanita dalam suasana yang mampu menciptakan, menggerakkan dan memelihara perdamaian serta membawa konsep ini dalam konferensi PPSEAWA di Cook Island.

c) Melakukan reposisioning ketika Golkar bermetamorfosa menjadi Partai Politik sesuai dengan UU Ormas dan UU Kepartaian yang ada.

Eksis Sampai Sekarang

HWK tetap bertahan dan berkembang sampai saat sekarang terutama dengan langkah- langkahnya yang telah dilaksanakan sebagai berikut :

HWK tetap bertahan dan berkembang sampai saat sekarang terutama dengan langkah- langkahnya yang telah dilaksanakan sebagai berikut :

b) Mereposisi organisasi menjadi organisasi yang non partisan dan tetap konsisten menghimpun dan menggerakkan kader wanita profesional di dalam masyarakat yang menonjolkan capaian karya profesional.

c) Mereposisi organisasi menjadi organisasi yang lebih terbuka dan mandiri dalam menghadapi dinamika masyarakat menuju tatanan Indonesia masa depan yang moderen.

d) Mereposisi organisasi menjadi ormas yang terbuka dan mandiri dalam misinya untuk mempersatukan wanita Indonesia yang profesional dan produktif dalam pembangunan nasional.

e) Melakukan konsolidasi organisasi untuk lebih memperkuat dan memantapkan struktur organisasi sampai ke tingkat desa serta mempertegas jalur vertikal dan horizontral yang ada di organisasi.

HWK dalam perjalanan sejarahnya telah melintasi 4 (empat) zaman seperti dijelaskan di atas disertai berbagai gerak langkah dengan berbagai pencapaiannya. Diharapkan bahwa di masa yang akan datang peran organisasi pergerakan wanita yang demikian harus mampu dipertahankan dan lebih dikembangkan serta terus mampu memberikan manfaat kepada anggota dan lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara.